Erte Kacrut beringan hati, membagi cerita cintanya, silakan... semoga menghangatkan cinta kita semua...
Untuk Ning...
Aku orang yang tumbuh dalam damai...
Bukan berarti aku tak pernah melihat kekerasan. Aku juga mengalami, sekali dua kali. Tapi aku menganggapnya wajar, karena memang aku sudah bersepakat bahwa kesalahan dan pelanggaran terhadap kesepakatan akan mendapat ganjaran. Aku sadar, maka aku tidak menyesal pernah mengalami kekerasan itu. Karena itu ganjaran dari kesalahan yang aku lakukan.
Orangtua yang mencubit anaknya karena gemas, memukul pantatnya atau tepatnya menempelkan dengan sedikit tepukan, bukanlah untuk menyakiti. Karena tadi, cara untuk mengembalikan ingatan, bahwa ada yang dilanggar, ada yang sudah terlewatkan, atau kelewatan. Dan itu bisa membahayakan, ya membahayakan diri kita. Sebuah cara menyayangi...
Tidak ada kebencian! Tulus semata-mata cinta...
Maka ketika aku pernah terkaget-kaget, ketika orang yang katanya cinta dan mencintaiku, ternyata mengubah wajah jelitanya menjadi wajah antagonis seperti perempuan dalam drama layar kaca. Bicaranya memaki, matanya menyala, wajahnya memerah seolah semua darah sudah naik ke kepalanya. Kata-katanya penuh tekanan, penuh kebencian.
Aku terbengong-bengong!
Sungguh aku tidak sedang di sebuah jalanan yang karena menyeberang sembarangan lalu banyak orang menyumpahiku. Aku juga tidak sedang di pasar yang jalan tak melihat keadaan, sehingga menabrak dagangan orang, lalu tumpah berantakan hingga aku diserapahi dengan kata-kata terkasar.
Jadikanlah kekasih, bila ingin tahu siapa dia sesungguhnya...
Aku hanya mengadaptasi kata bijak, untuk menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan. Maka kita akan melihat karakter sebenarnya. Mungkin dalam hal ini, beri ruang untuk mencintaiku, hingga aku tahu seberapa cintanya padaku. Jangan diikuti, ini sungguh ngawur...
Setidaknya memang harus ada ruang. Entah apalah itu namanya. Ruang untuk menunjukkan apakah mencintai itu benar-benar penuh kesungguhan untuk menyayangi atau sekadar mencintai dalam ruang rasa saja. Rasanya saja mencintai, tapi tidak dengan out put-nya. Aku merasa, mencintai itu mengalirkan kasih sayang seperti Tuhan menyertai seluruh penciptaannya dengan kerahmanrahimannya...
Menyayangi dengan kesungguhan dengan segala kebaikan, untuk kelebihbaikan, dan dengan cara-cara yang baik. Mengasihi dengan jujur, apa adanya, demi sebuah kedamaian hati, kenyamanan ruhani, dan keindahan berbagi.
"Ning, maafkan aku, telah membuatmu menyala dalam amarah dan dendam panjang..."
Jeda waktu yang panjang, telah membuat kita lebih paham apa itu sayang dan menyayangi. Dan kita bisa berdialog dalam damai, dalam aura cinta yang sebenarnya. Meski aku tak memilikimu, tapi aku merasakan kamu menyayangi dan mencintaiku. Dan kamu tampak bahagia, seperti juga aku. Kita tidak akan sebahagia ini kalau memaksa diri untuk terus bersamamu waktu itu...
Terima kasih telah mengingatkan untuk menjaga kesehatanku... ehm!
~ Ning adalah kejernihan, seharusnya aku bisa berkaca dalam kejernihanmu...
Rabu, 18 Juli 2012
Senin, 23 April 2012
Tumpeng Rasa Khawatir
“Menulis adalah keberanian…” Erte Kacrut membuka pidatonya,
“Itu kata sastrawan Pramudya Ananta Toer. Nah, kalau menulis adalah keberanian,
berarti kita mungkin bisa bersepakat bahwa membaca adalah kelebihberanian…”
Dul Kenyut menyambut dengan tepuk tangan,
beberapa orang yang hadir juga tepuk tangan. Anak-anak yang jumlahnya puluhan
pun tepuk tangan. Entah mereka mengerti atau tidak dengan omongan ertenya. Yang
penting tepuk tangan... Orang-orang yang duduk di bangku depan mungkin paham,
tapi deretan bangku berikutnya belum tentu. Mungkin buat mereka, tumpeng buat
Mak Eroh lebih menarik.
Atau jangan-jangan...
”Menjadi orang yang berani dan
memiliki kelebihberanian harus bisa menahan diri dari nafsu lapar mata dan
lapar perut. Persoalannya adalah, untuk dua hal itu sepertinya sulit
dikendalikan buat kita...”
”Betul, Te...” celetuk seseorang
disambut dengan tepuk tangan yang lebih bergemuruh. Lebih ramai dari gelombang
tepuk tangan yang pertama. Dul Kenyut celingukan, matanya bersitatap dengan
ertenya dengan tatapan bingung.
”Sepakat... untuk itu saya akan
langsung memotong tumpeng ini,” Erte Kacrut tahu persis kalau bakal mubazir
pidatonya. Nggak mungkin didengar. Dan ia pun segera menyudahi. Tahu habis
pidato bakal ada potong tumpeng, orang-orang tua di barisan depan keras sekali
menjawab salamnya.
Begitu tumpeng diangkat Dul Kenyut,
ketahuan banget itu wajah sumringah para tamu. Tapi bukan Erte Kacrut kalau
nggak banyak akal, ia memanggil semua anak-anak yang ada untuk ke depan, duduk
mengelilingi tumpeng. Dengan tertib mereka duduk bersila. Wajahnya beraneka
macam rona. Ada yang gembira, senang, biasa saja, bahkan ada yang begong, khas
anak-anak, tulus. Kontras dengan wajah para pinitua yang duduk di bangku depan.
Agak bingung, agak khawatir, dan penuh dengan rasa deg-degan...
”Ya, mari kita berdoa, setelah itu
kita makan tumpengnya...” kata Erte Kacrut.
Doa selesai, tumpeng tidak
dipotong....
”Ayo anak-anak, makan yang kenyang,
jangan lupa baca doa ya... jangan berebut seperti orang yang sudah sering makan
tumpeng!” kata Erte Kacrut.
Dul Kenyut bengong. Matanya
bolak-balik memandang ke anak-anak yang lahap tapi teratur makan tumpeng, lalu
memandang Erte Kacrut yang sumringah. Erte
edan! Batinnya. Matanya beralih ke para tamu di deretan depan, wajah-wajah
bingung, kecewa dan jakun yang terus naik turun tanpa henti karena menelan air
liur.
”Biarin anak-anak dulu ya
Bapak-bapak,” kata Erte Kacrut, ”Mereka kan belum pernah makan tumpeng, kalau
sampeyan semua kan udah sering...”
Alhasil, satu-satu orang tua itu
beranjak pulang ada yang pamit, ada yang tidak pamit, ada yang nyelonong. Tapi
semua sepakat, pergi sambil mengumpat. Dasar
erte edan, nggak ngormati orangtua!
”Eduuuun!”
Erte Kacrut cuma cengengesan. Dul
Kenyut memandangi ertenya dengan jakun naik turun juga. Ngiler dari tadi pengen
makan tumpengnya Mak Eroh.
”Situ gimana sih Te, saya yang
angkat dan bawa-bawa tumpeng dari warung, masak nggak kebagian...” protes Dul
Kenyut.
”Lu aja yang takut nggak kebagian,
liat tuh!” Erte Kacrut matanya mengarah ke tumpeng. ”Anak-anak mah tahu diri,
ngukur perutnya, nggak serakah kaya orang tua. Sama aja dong lu sama mereka,
takut nggak kebagian...”
Dul Kenyut tersipu, tapi jakunnya
tetap naik turun.
”Siapa yang udah...” tanya Erte
Kacrut.
Beberapa anak tunjuk tangan. Tertib!
”Nah, yang sudah ke saung ya...
silakan baca buku sepuasnya. Yang belum selesai nyusul ya...” Erte Kacrut
mendahului langkah ke saung. Ia sengaja mengumpulkan buku-buku buat anak-anak
Kampung Kacrut. Dan ternyata, antusiasme membaca mereka sama antuasiasnya
dengan ketika mereka makan tumpeng.
”Masih takut nggak kebagian, Dul...”
Erte Kacrut menepuk baru Dul Kenyut.
”Nggak Te...” Dul Kenyut malu hati.
”Tuh, masih setengah tampah, lauknya
juga masih melimpah! Habisin gih kalau perut lu muat...“ kata Erte Kacrut
sambil menyambar paha ayam goreng. ”Mental lu di-upgrade tuh, malu-maluin.
Nggak beda sama produk lama...”
Dul Kenyut makan sambil mikir. Sementara Erte
Kacrut larut dalam kesenangan anak-anak yang asyik dapat bacaan baru, dan bisa
membaca dengan perut yang kenyang.
”Siapa yang berani cerita apa yang
sudah dibaca, boleh pilih bukunya buat dibawa pulang...” samar-samar Dul Kenyut
mendengar ucapan ertenya. Ia merasakan suasana yang beda. Ertenya memang luar
biasa. Dan ia harus terus belajar dari kegilaannya...
* Selamat hari buku dan hak cipta sedunia...
Jumat, 20 April 2012
Kartini Update!
Erte Kacrut cengengesan!
“Kenapa Te?” tanya Dul Kenyut heran.
“Nggak papa…” sahutnya sambil tetap
cengengesan. “Kalo lu mau ikutan cengengesan, ikut aja. Gratis kok!”
Sialan!
Umpat Dul Kenyut yang akhir ‘nyengenges’ ngikutin ertenya. Walaupun sama
sekali nggak paham. Tapi ya demi stabilitas dan solidaritas, sebuah logika
orang yang agak pinter tapi sebenarnya bodoh dan pragmatis, maka Dul Kenyut
melakukannya.
Erte Kacrut makin lebar
cengengesannya. Dul Kenyut makin heran dibuatnya.
“Lu ngapain cengengesan,” tanya Erte
Kacrut.
“Lha, kan ngikutin situ…” Dul Kenyut
si sarjana ber-IPK 3 koma itu menyahut.
Kali ini malah Erte Kacrut
ngakak-ngakak. Makin bikin nggak enak hati Dul Kenyut. Sumpah ia merasa sedang
dikerjai dan dihina-dinakan.
“Dul, Dul… lu pinter tapi bego!”
Erte Kacrut ngakaknya lebih nyaring.
Tuh,
bener kan… batin Dul Kenyut. Ia merasa ertenya memang sedang menjebak. Dan
ia dengan sadar terperangkap. Pasti habis ini ertenya akan bilang, Itulah sebabnya gue nggak yakin dengan paralelisasi
kecerdasan akademik dengan kecerdasan situasional. Ah, dasar erte gila! Batinan
Dul Kenyut makin kesal. Ada saja cara untuk membuatnya bertekuk lutut, dan
menempatkan dirinya tidak lebih pintar dari ertenya. “Erte eduuuun…”
Ya, ketika Dul Kenyut sedang
mencerna dan mencermati pembodohan dirinya, eh ertenya sudah raib dari
sebelahnya. Hah! Dul Kenyut melihat ertenya sudah bercengkerama sama Mak Eroh di depan warung.
“Saya nggak sakit mata kan Mak?”
tanya Erte Kacrut ke Mak Eroh.
“Kagak merah kok, Te…” sahut Mak
Eroh agak mendekat.
“Oh, saya juga takutnya lagi sakit
nih…” kata Erte Kacrut lagi.
“Nggak ah, orang seger buger gitu…”
Mak Eroh melihat-lihat wajah ertenya.
“Berarti saya sehat ya… ya sudah,
takutnya saya salah lihat,” kata Erte Kacrut lagi.
“Salah lihat apaan?”
Erte Kacrut tidak bicara. Matanya
yang bicara. Ia memperhatikan Mak Eroh yang hari ini modis banget. Pakai kaos
casual, terus pakai jeans, dan agak wangi. Rambutnya disanggul nyaris seperti
sanggulnya Syahrini. Tapi baru nyaris saja, karena sejatinya lebih pas dengan
nama "Setrum Tiada Tara". Karena
rambut Mak Eroh lebih tampak nge-punk dan
acak-acakan.
“Kenapa Te, liat-liat saya… cinta
ya?” tegur Mak Eroh.
Erte Kacrut tertawa. “Antara cinta
dan geli, Mak…”
“Keren kan? Situ aja sampe segitunya
ngliatin saya. Kalah deh orang-orang cakep di infotainment!”
Erte Kacrut tertawa lagi, matanya
masih nggak percaya kalau yang di hadapannya adalah Mak Eroh yang sehari-hari
hanya berbebat daster dan dibalut kain. Kini ia tampil modis!
“Dalam rangka apa Mak? Sampai bisa
cantiknya nggak ketulungan…” tanya Erte Kacrut sambil senyum-senyum.
“Kalau muji yang tulus ngapa, Te,
segala dikata cantiknya nggak ketulungan. Emangnya kita gedebong pisang hanyut
apa…” sahut Mak Eroh sambil menarik bibirnya. Kesal. “Ya dalam rangka
memperingatkan hari Kartini lah…”
Erte Kacrut tepok jidat, “Memperingati
kali Mak…”
“Emang beda ya... memperingati sama
memperingatkan?”
“Ya beda! Tapi kenapa nggak pilih
pake sanggul ama kebaya, Mak?”
“Biar beda aja…”
Duh! Ini emak-emak gayanya selangit.
Jatuh terus stroke, tahu rasa dia.
“Kalau gini kan kayak personil
Cherrybelle!” Mak Eroh tertawa, sampai giginya yang tanggal satu kelihatan.
Kartini mungkin juga tersenyum lihat
polah Mak Eroh. Tapi ya, memang memperingati itu kan nggak harus selalu
artificial. Hanya kulit, hanya yang tampak luar. Justru yang penting adalah
memperingati dengan memperingatkan diri dan orang lain, bahwa cita-cita luhur
Kartini itu seharusnya bikin perempuan kudu pinter. Perempuan harus visioner.
Tapi tetap tidak mengingkari kodrat. Boleh sibuk, bahkan harus sibuk, karena
sibuk itu membuat orang berpikir dan berkeringat. Bukankah kita harus menjadi
umat yang terus bergerak…
“Fotoin dong Te, nih pake hapenya
Ningsih!” Mak Eroh menyodorkan hape cina yang mirip blackberry. Dengan gaya
pol-polan dan agak ugal-ugalan, Mak Eroh lupa umur. Dan jeprat-jepret Erte
Kacrut ngaconya juga nggak karu-karuan. Hingga sampai ke pose andalan yang sangat
fenomenal. Mak Eroh menaruh kedua tangannya di dagu dan kepalanya
ditengglengkan! Rasanya sudah persis banget personil Cherrybelle!
Tentu dengan tanpa mengurangi rasa
hormat, Erte Kacrut menahan cengengesannya. Seperti juga Dul Kenyut yang
diam-diam melihat aksi itu. Sambil menahan ketawa juga. Demikian juga Ningsih
sang pemilik hape!
“Keren Mak! Nanti diupload difesbuk
ya…” celetuk Dul Kenyut.
Mak Eroh tersenyum. Erte Kacrut
kelepasan. Ia bisa menahan tawa tapi tak bisa kentutnya... Dul Kenyut cuma bisa mesem-mesem sambil tutup hidung, karena dialah yang paling banyak dapat bagian. Dasar erte eduuun!
Langganan:
Postingan (Atom)

