Jumat, 11 November 2011

TOT ala Koboi Betawi # 2

Nah ini dia...
            Sesi paling sadis dalam Training of Trainer kali ini. Peserta harus siap lahir dan batin, mental dan spiritual. Kalau tipis kuping dan ngambekan, dijamin nggak bakal lulus sama sekali. Jangan harap... Jangan pernah berharap. Mending dari awal nggak usah ikutan training gila-gilaan ini. Tiduran di rumah sambil nonton sinetron rasanya lebih baik deh...
            ”Tulisan lu jelek...!”
            ”Jelek bangeeeeet!”
            ”Ampun dah!”
            Begitulah kata-kata ajaib yang keluar dari sang jagoan neon ketika membaca hasil tulisan peserta.
            ”Tulisan apaan nih!”
            Namanya juga training mentor, berarti asumsinya kemampuan menulis pesertanya sudah berada minimal setingkat di atas para peserta workshop Goes to School-nya FLP Jakarta. Jadi ya nggak diperlukan toleransi. Memaklumkan, kan waktunya dikit... kan pulpennya macet, kan kertasnya sobek... halah! Nggak ada alasan...
            ”Gue sih demen, ngliatin elu pade kalo lagi ngoceh di depan anak-anak...” kata sang jagoan neon sinis banget, ”Lagunya dah keren bener deh... menulis itu bla bla bla... menulis itu ble ble ble... Sekarang baru ketauan dah lu, kacrut juga!”
            Peserta cuman cengengesan. Mengiyakan dalam hati!
            Menutup malu dengan senyum. Padahal sih ada yang sakit hati...
            Kemudian satu-satu karya dibacain. Nggak ada yang bagus sama sekali... Ada judul nggak nyambung sama isi. Ada yang nggak jelas sebab akibatnya, ceritanya ajaib! Kayak sulapan. Ada yang nggak tahu kejadian dan peristiwanya terjadi di mana... abstrak! Gelap...
            Ada juga yang ancur lebur berkeping-keping! Karena tulisannya sama sekali nggak bisa dibaca. Ampun dah... mau dibilang resep, tapi penulisnya ngotot itu cerpen. Mau dibilang tulisan dokter, tapi penulisnya jebolan sastra. Ya sudah. Akhirnya biar nggak sakit hati, dia disuruh bercerita. Dan diberi ucapan terima kasih serta sedikit pujian.
            ”Idenya berani... lanjutkan!”
            Tapi nggak tahu kenapa, mungkin terlanjur sakit hati dan malu. Sang penulis pundung, pulang nggak melanjutkan ke sesi berikutnya. Ya sudahlah. Beberapa lagi juga pulang, dengan alasan masing-masing. Ada yang mau mengajar esok pagi-pagi sekali. Ada yang nggak jelas alasannya. Sekadar menemani mereka yang pulang saja, siapa tahu beruntung bisa tukeran nomer hape. Halah... basi!
            Sesi pertama selesai! Dan rasanya, peserta lega luar biasa. Karena pembantaian benar-benar kejam melebihi rezim Pol Pot di Kamboja. Sang jagoan neon juga lega, karena bisa segera taubatan nasuha... Cerita selanjutnya... ISHOMA! Istirahat, shalat dan makan... soal makan, nanti saja ceritanya ya. Seru banget pokoknya mah...

(bersambung bila perlu...)

TOT ala Koboi Betawi # 1

            Namanya juga training, pelatihan… suka nggak suka, demen nggak demen ya kudu ngikut aturan. Nah, persoalannya yang punya aturan cuma satu orang. Nggak ada yang tahu, kalau dalam training ini mau diapain...
            Setelah pada kenyang makan nasi Padang, peserta yang matanya mulai mengatup. Duduk cari tempat yang paling asoi geboi. Padahal disiapkan banyak pilihan tempat, mau yang serius kayak kongres PSSI di Hotel Sulthan, atau sekadar kelas seperti di ruangan terbatas hotel bintang lima.
Tapi, dasar kampungan semua...
            Pilihannya gelar karpet saja di teras!
            Baiklah...
            Maka dibukalah Training of Trainer itu oleh Direktur Program Khusus FLP Jakarta, Fariecha Loesheila dengan sedikit pengantar. Intinya, training ini untuk menyamakan kualitas mentor, yang saat ini sangat penting dan mendesak, karena permintaan workshop dalam program FLP Jakarta Goes to School meningkat. Sekian dan terima kasih...
            Maka sang supermentor... mulai beraksi!
            ”Saudara-saudara yang berbahagia maupun sedang tidak berbahagia...” begitu pembukaannya, kalau nggak salah kutip! Kelihatannya sih salah... Lagipula, yang penting bukan pembukanya. Tapi isi trainingnya yang ajaib.
            ”Apa yang paling sering menjadi pertanyaan para peserta mentoring?” tanya sang jagoan neon.
            Seperti anak taman kanak-kanak, walaupun realitasnya para peserta ini sudah berumur dan hampir uzur serta sering pelupa. Mereka berebut bicara. Norak deh...
            ”FLP itu apa?” salah satu memekik. (Nilai 9)
            ”Sekretariatnya di mana?” salah dua menyambut. (Nilai 8)
            ”Bisa follow up nggak?” salah tiga turut berteriak. (Nilai 7)
            Sang jagoan menatap satu persatu wajah peserta. Ada yang jelek, ada yang jelek banget! Ada yang bau napasnya serupa aliran listrik yang bikin kesetrum langsung pingsan, ada juga yang duduknya nggak tenang, goyang-goyang atau ganti gaya melulu. Dan setelah diperhatikan dengan seksama, pasti setelah gaya duduk berganti bakal ada semilir bau. Kalau dalam bahasa Indonesia sih disebut kentut... Yah, namanya juga orang kampungan, biar sudah ngracunin tetangganya puluhan kali hingga sesak napas dan mual-mual, tetap saja nggak ngaku...
            ”Baiklah... begini penjelasannya...” kata sang jagoan neon. Maka berbusa-busalah mulutnya. Seperti rendaman cucian yang mau dikucek. Pertanyaan demi pertanyaan tuntas. ”Ada lagi... soal materi kali...”
            ”Susah dapat idenya...”
            ”Iya, susah dapat idenya...”
            ”Bener, susah dapat idenya...”
            Halah... Daripada ricuh, maka langsung saja sang supermentor memotong omong kosong itu dengan jawaban yang intelek, lugas dan berbobot. Dalam sekejap, tuntas pula masalah itu. Bungkus...
            Rehat, makan bakwan dulu! Wuih, ruwetnya ngalahin lalu lintas di perempatan CSW. Untung itu tangan nggak pada ketuker, saking semangatnya rebutan bakwan. Pokoknya noraknya bukan main lah. Namanya juga training ala koboi. Jadi ya biarin aja. Walaupun sang supermentor dengan sukses sama sekali nggak disisain... (tega ihh...!) Makanya, mereka nggak sadar, kalau sang mentor yang cerdas itu ngerjain mereka! Ditugaskanlah semua peserta bikin cerpen dalam waktu setengah jam...
            Mampus mampus dah!
            Dan ketika peserta manyun-manyun sambil puyeng, sang mentor pun bersiul-siul, sambil foto sama kembang! Aih, rupanya sang supermentor itu lelaki pecinta bunga... halah! Bagaimana dengan keruwetan para peserta?
            ”Bodo amat, emang gue pikirin...” kata sang supermentor sambil nguap...

(bersambung, kalau sempet...)