Rabu, 21 Desember 2011

Cintaku Padamu...


Mak Eroh bikin heboh, ia menggratiskan semua masakan di warungnya khusus hari ini. Tentu saja ada makhluk yang paling depan dan betah mengunyah sejak warung itu buka. Siapa lagi kalau bukan Dul Kenyut. Bagaimana pun pendidikan mental jangan terlalu diharapkan dari sistem belajar negeri ini. Setidaknya dalam kasus Dul Kenyut yang mahasiswa ber-IPK tiga koma ini, sama sekali tidak punya sensitivitas ‘rasa cukup’ dan ‘sangat sensitif’ terhadap sesuatu yang berlabel ‘gratis’ dan ‘gratisan’.
Erte Kacrut sedang menjemur sarung ketika pemuda pintar ini datang dengan perut kekenyangan. Tahu kan bagaimana rasanya kekenyangan?
“Kenapa lu, kekenyangan?” tanya si erte sambil senyum sinis.
Dul Kenyut tidak menjawab, hanya mengangguk dan mringis-mringis. Kemudian duduk menyender dengan kaki selonjor dan kepala mendongak. Napasnya berat, perutnya berasa nggak enak.
Erte Kacrut datang sambil membawa secangkir kopi yang aromanya aduhai, sepiring pisang goreng yang bikin air liur Dul Kenyut ngences, dan entah makanan apa dalam kotak yang belum dibuka isinya.
“Lagi? Enak nih…” Erte Kacrut menawari Dul Kenyut sambil mengedik-ngedikkan kelopak matanya. Ngeledek…
Dul Kenyut menggeleng meski matanya masih kepengen dan liurnya terus tergiur. Enak banget kayaknya… Apalagi melihat ertenya tampak lahap, kemudian seruputan kopinya juga berasa nikmatnya.
“Pengen, tapi dah kenyang…” lirih suara Dul Kenyut menyela kenikmatan gigitan terakhir pisang goreng kiriman Mak Eroh tadi pagi.
“Perut itu kan ada kapasitasnya, Dul! Lu kan lebih pinter soal ginian, kayak tengki motor atau metromini, ada kapasitas muatnya… kalau kelebihan ya enek! Metromini juga gitu kan, kelebihan penumpang enek… Apa pun yang berlebihan pasti bikin enek!”
Dul Kenyut nyengir.
“Lagian lu nggak ada bedanya sama orang yang nggak makan sekolahan sih, kalau dengar gratisan ngiprit paling duluan. Nggak malu sama yang ngasih gratisan. Mak Eroh yang nggak sekolah tinggi, duitnya nggak banyak, dan kerjaannya cuma ngewarung aja mau berbagi, lha lu malah kebalikannya…” kata Erte Kacrut menyeling dengan seruputan kopinya, “Maunya gratisan mulu…”
“Gratisan itu enak, Te!” kilah Dul Kenyut.
“Berbagi itu lebih mulia,” kata Erte Kacrut.
Dul Kenyut nyengir lagi sambil megangin perut. Ia sudah tahu, sebentar lagi pasti ertenya bakal ngomong, “Berbagi itu puncak cinta, siapa yang dalam dirinya sudah sublim mental berbaginya, dialah pecinta sesungguhnya, dia akan menikmati dunia dan seisinya…”
“Lu nggak malu sama Mak Eroh? Dia bisa memaknai hari ibu dengan cerdasnya. Berbagi apa yang dia bisa dan dia punya. Karena dia tahu, kemuliaan sedang ia bangun dengan hal yang sangat sederhana. Bukan dengan pidato surga di telapak kaki ibu, bukan dengan lomba konde anti badai, apalagi cuma membebaskan ibu sehari itu nggak ngapa-ngapain…”
Dul Kenyut lagi-lagi cuma nyengir, gratisan di perutnya seperti baling-baling bambu Dora Emon yang masih muter dan lupa dimatiin. Melilit-lilit…
“Belajar lah dari Mak Eroh, dia mengajari kita memberi, dia memberi contoh kita berbagi, dia tidak mewariskan mental miskin dalam kemiskinan yang juga dia jalani. Ia merasa berdaya dengan memberi, mulia dengan berbagi…”
Suara Erte Kacrut tiba-tiba parau, matanya menggenang air. Terkenang ia akan ibu yang sangat dicintainya. Khusyu dalam diam ia antarkan doa… semoga lapang kuburmu, semoga diampuni dosamu, semoga dimaafkan kesalahanmu, dan semoga di surga tempatmu… Amin.
Diam-diam Dul Kenyut pun berbagi, embusan angin yang tak tahan lagi dia tahan. Hiks, maafkan daku, Te, gumannya sambil berlari kencang ke arah jamban!


Selasa, 20 Desember 2011

Galau!


Dul Kenyut nggak bisa tidur, tumben banget…
            Biasanya begitu ketemu bantal di saungnya Erte Kacrut terus saja merem dan mendengkur.  Apalagi kalau semua atribut perang melawan nyamuk dan dingin sudah dikenakan, kaos kaki, sarung, udeng-udeng (penutup kepala oleh-oleh dari Erte Kacrut waktu study tour ke Jogja), dan tentu saja nyalain obat nyamuk.
            “Kenapa luh, galau?” tegur Erte Kacrut yang tampaknya baru saja dari sumur.
            Dul Kenyut cuma tersenyum nggak menyahut. Hmm, orang ini nggak tahu diri amat ya… batinnya, dia yang bikin gue nggak bisa tidur malah sekarang seenaknya ngatain kalau gue galau!
            “Makanya baca doa, sembahyang tahajud, biar semua keinginan lu kesampaian… pengen dapat kerjaan, jodoh, jadi orang terpandang, dihargai orang, dihormati orang, disanjung-sanjung orang. Pokoknya cita-cita lu supaya eksis kesampaian dah! Gue bantuin amin-nya aja deh!” Erte Kacrut nyerocos sambil ngelap muka pakai kaosnya hingga pusernya kelihatan.
            Dul Kenyut hanya melenguh…
            Enteng aja lu ngomong, batin Dul Kenyut lagi, semakin banyak omong, semakin gue nggak bisa tidur nih! Dul Kenyut hanya bisa protes dalam hati, tidak berani ngomong langsung. Ah, padahal Erte Kacrut orang yang paling nggak seneng kalau diomongin di belakang, atau kalau ada masalah dengan dirinya nggak mau ngomong. Jangan-jangan nanti dia juga dianggap Brutus sama Erte Kacrut karena hal ini. Karena menurut Erte Kacrut, Brutus yang membunuh Raja Caesar itu simbolik!
            Entahlah bagaimana dalilnya, erte sableng itu menafsirkan simbolisasi pembunuhan dalam kasus Brutus. Katanya sih, Brutus itu semacam nafsu juga. Sejenis nafsu berkuasa, keinginan untuk eksis juga, dan kegalauan orang-orang di sekitar kekuasan yang merasa lebih bisa memimpin dari pemimpinnya sekarang. Lalu sedemikian rupa, melakukan konspirasi untuk secara individu ataupun kolektif, menjerumuskan pemimpinnya dalam suasana simalakama.
            Nah inilah yang bikin Dul Kenyut nggak bisa tidur…
            Simalakama.
            “Lu kan nggak pernah mikir Dul, secara paksa telah mengambil bahkan merampok tanpa sisa semua yang privat dari gue! Untuk menjadi pemimpin, semua itu sudah diambil dan apa yang melekat dalam diri yang bersangkutan menjadi milik publik. Kalau orang biasa punya 24 untuk urusan dirinya, seorang pemimpin, seperti erte macam gue, 24 jam atau mungkin separonya sudah diambil semuanya buat urusan publik…”
            Dul Kenyut mikir, iya yah, ertenya kehabisan waktu untuk dirinya. Padahal seperti yang lain, dia juga harus kerja, harus memenuhi hajatnya, dan mesti memiliki ruang privat seperti dirinya yang kebanyakan waktu hanya untuk diri sendiri. Urusan warga jadi hal yang tak pernah lepas dari dirinya, dari melek mata sampai merem.
            “Lu nggak pernah mikir kan Dul yang kayak gitu… dan seenaknya aja kalau ada yang nggak beres lu nuduh-nuduh gue nggak amanah lah, kepemimpinan gue payah lah… lu ngasih apa buat gue? Emang Erte digaji, dikasih fasilitas seperti pejabat? Sehingga bisa kasih semua waktunya untuk ngurusin ini semua tanpa bingung mikirin bakul nasi, bayar listrik, kondangan, trus nanggung hidup lu juga…” Wajah Erte Kacrut tiba-tiba serem banget di hadapannya, “Waktu yang gue punya sama Dul! Dan udah diambil semua untuk ngurusin elu pada, tapi gue harus bersiasat supaya gue juga tetap hidup, tetap bisa makan tanpa meminta-minta, tetap bisa hidup normal…”
            Ehm, Dul Kenyut merasa ada yang mengiris hatinya. Jujur saja ia merasa nyaman jadi orang dekatnya Erte Kacrut. Dia dapat banyak kemudahan, kecipratan makan enak kalau ertenya diundang ke mana-mana, dapat duduk paling depan, ikut dihormati orang, dapat diskon makan dan ngopi di warung Mak Eroh… ah! Dul Kenyut takut kalau semua itu tiba-tiba tercabut dan tidak ia dapatkan lagi…
            Tiba-tiba Dul Kenyut merasa ia menjadi Brutus…
            Dialah yang memaksa agar ertenya terus menjadi erte di Kampung Kacrut sepanjang hayat. Kasak-kusuk dengan warga agar tidak ada yang menggantikannya. Dul Kenyut sama sekali tidak pernah berpikir, ertenya telah ia rampok kebebasannya dan waktunya!
             Dul Kenyut makin galau…

Senin, 19 Desember 2011

Bodo Amat!

        ”Emang gue pikirin...”
Erte Kacrut menyahut enteng sambil menyeruput kopi buatan Mak Eroh yang hari ini kelihatan cantik dengan sanggul khatulistiwanya! Waktu diledek Erte Kacrut yang katanya ngikutin Syahrini, Mak Eroh malah menganggap penyanyi itulah yang meniru sanggulnya. Bedanya Syahrini mengemasnya dalam bungkus entertain yang lebih menjual, kilah perempuan setengah baya sambil menggoreng ikan masuk angin! Kok? Iya, ikan kembung kesukaannya Erte Kacrut...
”Kok gitu Te, nggak bisa dong...” sergah Dul Kenyut, ”Jangan sewenang-wenang kalau jadi pemimpin!”
”Eh, gue bilangin ya mahasiswa pinter...” sambut Erte Kacrut sambil meletakkan cangkirnya ke pisin. ”Jangan lu anggap, yang sewenang-wenang itu pemimpin aja. Di sini banyak juga orang-orang yang sewenang-wenang sama pemimpinnya!”
Dul Kenyut mengernyit keningnya. Mahasiswa yang IPK-nya tiga koma dan masih nganggur itu agak lemot mencerna omongan ertenya. Omongan yang kudu dikunyah sampai lembut benar biar nggak bikin masalah di pencernaan.
”Gue yakin semua pemimpin itu iktikadnya baik... bahkan ketika ia nggak mau lagi jadi pemimpin juga pasti tujuannya baik...”
”Mana ada orang mundur dengan tujuan baik, Te...”
”Ya ada, pemimpin itu mikir apa yang nggak ada dipikirannya yang dipimpin, ketika yang dipimpin tahu, pemimpinnya dah tahap eksekusi, ketika yang dipimpin ngeh, pemimpinnya dah jauh mikir yang lain lagi... udah mengeksekusi yang lain lagi juga!”
Sambil masukin potongan mendoan terakhirnya, tetap saja Dul Kenyut berkerut. Benar-benar harus dikunyah lembut omongan ertenya kali ini. Heran, lulusan sekolah mana sih erte begini...
”Jangan cuma ngelihat pemimpin itu zalim, sewenang-wenang... banyak pemimpin yang adil, yang baik,  yang tahu kapan dia naik kapan dia turun dan menyelesaikan tugasnya. Pemimpin kayak gini banyak, cuman nggak seksi aja buat berita, sehingga nggak pernah ada di tivi, di koran atau di majalah...”
Baru kali ini Dul Kenyut melihat ertenya bicara sangat serius. Seumur-umur kenal, Erte Kacrut lebih cenderung memperlihatkan wajah smart yang rileks. Tapi kali ini seperti ada aksentuasi tertentu untuk beberapa hal. Kelihatannya dia sangat serius...
”Banyak juga rakyat yang sewenang-wenang, Dul... aparat dan pengurus erte yang juga sewenang-wenang. Mereka dengan sadar atau tidak sadar semena-mena melampirkan label negatif, kata-kata makian, dan umpatan yang luar biasa bengis kepada kesalahan pemimpinnya. Atau malah bukan kesalahan pemimpinnya, tapi semata-mata karena kekhawatiran dirinya. Karena dia bingung kepada siapa dia mengumpat untuk keegoisannya, untuk kebodohannya sendiri karena dia tidak bisa mengendalikan dirinya... banyak Dul orang macam begini...”
Dul Kenyut termangu. Ini serius. Ertenya sedang waras, membenturkan logika dan realitas ke hadapannya.
”Jangan-jangan lu juga khawatir Dul kalau gue nggak jadi erte!”
Ups! Dul Kenyut gelagapan ditembak omongan ertenya.
”Mak Eroh sayang, mulai hari ini Dul Kenyut jangan dikasih diskon kalau ngopi di sini...” ujar Erte Kacrut sambil melangkah dari bangku. ”Dia harus bayar sendiri, masak mahasiswa lulus dengan IP tiga bokeknya permanen...”
Dul Kenyut mukanya kecut! Matanya melihat langkah ertenya yang kian menjauh. Dan ketika menengok ke Mak Eroh, tangannya sudah menengadah meminta bayaran. Duh, mati gue, batinnya. Mana hari ini dia makan banyak banget... hiks!